ATLS (Advanced Trauma Life Support) : Panduan Sakti Anak IGD
Kalau ngomongin trauma, hal pertama yang harus lo pahami adalah: ini bukan kasus biasa. Trauma itu serba cepat, serba mendesak, dan sering kali informasinya minim. Prinsip perawatan trauma dibuat buat ngejaga supaya tenaga kesehatan nggak panik, nggak lompat-lompat tindakan, dan tetap sistematis walaupun kondisi lagi chaos.
Di lapangan maupun di IGD, pasien trauma hampir selalu ditangani dengan pendekatan tim. Nggak ada istilah one-man show. Dari tenaga prehospital, dokter IGD, perawat, radiografer, sampai bank darah — semuanya punya peran masing-masing. Prinsip trauma care ini ngebantu semua profesi itu pakai satu bahasa yang sama, biar penilaian cepat, tindakan tepat, dan pasien bisa sampai ke definitive care secepat mungkin.
Fokus utama materi ini adalah cara mengevaluasi masalah yang paling sering muncul pada pasien trauma, dan gimana cara menanganinya secara umum tapi efektif. Jadi bukan cuma hafalan, tapi mindset.
Introduction: Kenapa ATLS Itu Penting Banget?
Tahun 2018, American College of Surgeons lewat Committee on Trauma resmi ngeluarin ATLS edisi ke-10. Buat tenaga medis, ATLS ini ibarat GPS-nya penanganan trauma. Mau pasiennya datang dengan kondisi seacak apa pun, lo tetap tahu harus mulai dari mana.
Inti dari ATLS itu sebenarnya simpel: primary survey dan secondary survey. Dua hal ini jadi fondasi utama. Dengan metode ini, semua anggota tim — dokter, perawat, paramedis — bisa kerja bareng tanpa miskomunikasi, karena urutannya jelas dan standarnya sama.
Kelebihan ATLS baru kerasa banget pas situasi lagi stressful. Bayangin pasien datang nggak sadar, mekanisme trauma nggak jelas, riwayat penyakit nggak ada, keluarga belum nyampe. Otak bisa overload. Nah, ATLS itu bantu mindahin beban kognitif, jadi lo tinggal ikutin alurnya sambil mikir lebih jernih dan komunikasi ke tim tetap jalan.
Makanya, prinsip trauma care ini nggak cuma teori, tapi skill yang langsung bisa dipakai hari itu juga.
Function: Trauma Care Itu Mulainya Bahkan Sebelum Pasien Datang
Perawatan trauma nggak dimulai di IGD, tapi dari TKP. Biasanya tim rescue datang duluan dan ngasih prehospital care berbasis BLS, ACLS, PALS, plus prinsip PHTLS. Apa yang mereka lakukan di lapangan bakal ngaruh ke kondisi pasien pas sampai RS.
Makanya, tim rumah sakit harus ngerti kapabilitas dan keterbatasan tim prehospital di wilayahnya. Dengan begitu, begitu dapet info lewat radio atau telepon, tim IGD bisa langsung ngebayangin: pasiennya bakal kayak gimana.
Begitu call masuk, tim IGD langsung mulai triase mental. Umur pasien, mekanisme trauma, status koagulasi, komorbid — semuanya dipikirin. Alat-alat disiapin, APD dipakai, dan semua layanan pendukung dikabarin. Team leader mulai ngatur ritme, siapa ngapain, berdiri di mana, dan fokus ke apa.
Tujuannya satu: pas pasien masuk trauma bay, nggak ada yang bingung.
Primary Survey: ABCDE Itu Bukan Sekadar Hafalan
Begitu pasien masuk IGD, assessment harus langsung jalan. Sambil denger handover dari tim rescue, pasien dipasang monitor jantung, oksimetri, tensi, dan diambil tanda vital lengkap. Data awal ini nentuin langkah selanjutnya.
Setelah itu, primary survey dimulai dengan urutan sakral:
A – B – C – D – E
Urutan ini nggak boleh dibalik, karena ini soal hidup dan mati. Dan yang penting, primary survey itu dinamis, bukan sekali lewat doang. Setiap ada perubahan kondisi, atau setelah intervensi besar, lo harus balik lagi ke A.
Airway: Kalau Jalan Napas Nggak Aman, Semua Percuma
Airway itu prioritas nomor satu. Biasanya ada satu orang yang stay di kepala pasien, tugasnya ngecek apakah jalan napas aman atau enggak. Hal-hal sederhana tapi krusial dicek: ada darah, muntah, lidah jatuh, atau benda asing nggak?
Cara paling cepat ngecek airway? Ajak pasien ngomong. Kalau suaranya serak, lemah, gurgling, atau stridor, itu red flag.
Selain itu, leher juga harus diperhatiin. Hematoma yang makin gede, luka bakar di sekitar mulut dan hidung, jelaga, atau trauma wajah bisa bikin airway kolaps kapan aja. Fraktur maksilofasial juga bikin manajemen airway jadi nightmare ke depannya.
Di saat yang sama, provider juga wajib jaga stabilisasi tulang leher. Collar dipasang kalau perlu, dan selama pemindahan atau log-roll, alignment servikal harus dijaga terus.
Kalau airway mulai kompromi, nggak ada waktu nunggu. Bisa mulai dari manuver sederhana kayak chin lift atau jaw thrust, sampai pakai airway adjunct seperti OPA, NPA, LMA, atau langsung ke intubasi. Dalam kondisi ekstrem, airway bedah juga harus siap.
Intubasi endotrakeal masih jadi gold standard karena definitive dan bisa dipakai jangka panjang. Tapi sebelum nyobain, provider harus mikir: “Ini bakal susah nggak ya?” Di sinilah LEMON kepake buat prediksi kesulitan airway.
Semua alat harus siap duluan. Jangan mulai kalau plan B dan C belum ada. Setelah ETT masuk, konfirmasi posisi itu wajib, pakai capnografi, auskultasi, dan foto toraks.
Breathing: Airway Aman ≠ Napas Aman
Airway cuma urusan jalannya udara. Breathing itu soal mekanisme ventilasi. Dada, paru, diafragma, tulang iga, otot interkostal — semua harus kerja bareng.
Trauma bisa bikin banyak masalah: fraktur iga, flail chest, pneumotoraks, hemotoraks, kontusio paru, sampai ruptur diafragma. Belum lagi nyeri yang bikin pasien malas napas dalam, ujung-ujungnya atelektasis.
Assessment breathing dimulai dari lihat RR, SpO₂, pola napas, bentuk dada, ada luka terbuka atau nggak. Dengarkan suara napas kanan-kiri, raba dinding dada, dan kalau bisa perkusi.
Setelah itu, imaging bantu konfirmasi. Penanganannya tergantung penyebab. Ada yang cukup dikasih analgesik dan oksigen, ada yang perlu ventilasi tekanan positif, sampai chest tube atau operasi darurat.
Team leader harus selalu mikir satu langkah ke depan: “Sebentar lagi dia butuh apa?”
Circulation: Trauma = Sampai Terbukti Sebaliknya, Anggap Perdarahan
Begitu airway dan breathing aman, fokus pindah ke sirkulasi. Jantung, pembuluh darah, dan darah itu satu paket. Kalau salah satunya kacau, perfusi organ langsung drop.
Provider cek nadi sentral dan perifer, bandingin kanan-kiri, perhatiin warna dan suhu kulit. FAST, X-ray, dan CT sering dipakai buat bantu deteksi sumber masalah.
Masalah paling sering? Perdarahan. Bisa dari luar, bisa dari dalam. Tapi jangan lupa juga cedera jantung, tamponade, tension pneumothorax, atau sindrom kompartemen.
Perdarahan ditangani sesuai sumbernya. Luka kecil mungkin cukup ditekan. Fraktur femur terbuka butuh tourniquet dan operasi. Pelvic binder bisa nyelametin nyawa. Resusitasi cairan dan transfusi darah disesuaikan sama derajat kehilangan darah.
ATLS ngebagi syok perdarahan jadi empat kelas. Makin tinggi kelasnya, makin agresif tindakannya. Di titik tertentu, massive transfusion protocol jadi kunci.
Disability: Jangan Lupa Otaknya Juga Dievaluasi
Bagian ini fokus ke status neurologis. GCS, pupil, gula darah, dan zat-zat yang bisa bikin penurunan kesadaran semuanya dicek.
Kalau ada penurunan kesadaran atau defisit neurologis, CT kepala dan tulang leher wajib dipikirkan, asal pasien cukup stabil. Kalau curiga cedera otak atau medula spinalis, konsultasi bedah saraf jangan ditunda.
Yang tricky, cedera saraf juga bisa bikin masalah hemodinamik. Kalau pasien hipotensi tapi nggak respon cairan dan malah bradikardi, neurogenic shock harus dicurigai. Ini beda banget sama syok perdarahan dan butuh vasopressor.
Exposure: Buka Semua, Tapi Jangan Sampai Pasien Kedinginan
Pasien trauma harus dibuka total. Luka tersembunyi sering ketauan di fase ini, apalagi di punggung. Log-roll itu wajib.
Tapi inget, trauma bay dingin. Hipotermia bikin koagulopati makin parah dan mortalitas naik. Jadi setelah selesai inspeksi, pasien harus langsung ditutup lagi, pakai selimut hangat dan cairan hangat.
Secondary Survey: Baru di Sini Kita “Ngobrol” Sama Pasien
Kalau primary survey aman, baru lanjut ke secondary survey. Ini versi cepat dari anamnesis + head-to-toe exam. Biasanya pakai SAMPLE buat bantu inget.
Mekanisme trauma penting banget. Luka tembus, benturan, perlambatan, atau thermal injury semuanya punya pola cedera khas. Dari sini provider bisa nebak cedera tersembunyi dan nentuin langkah selanjutnya.
Definitive Care: Ke Mana Pasien Ini Harus Pergi?
Setelah resusitasi cukup, team leader mulai mikir soal disposisi. Operasi? ICU? Atau transfer ke trauma center yang lebih lengkap? Ini keputusan tim, bukan individu.
Clinical Significance: Kenapa Semua Ini Penting?
Dulu, trauma ditangani beda-beda tiap RS dan tiap dokter. Hasilnya? Lama, ribet, dan angka kematian tinggi. Sejak prinsip trauma care distandarkan dan dipakai global, hasilnya jelas: mortalitas turun, outcome naik.
Trauma center terbukti punya survival rate lebih baik dibanding RS non-trauma.
Interprofessional Team: Chaos yang Sebenarnya Terorganisir
Trauma bay keliatan ribut, tapi sebenarnya semua orang lagi fokus ke tugasnya. Kuncinya komunikasi dan leadership. Perawat punya peran besar: akses vena, obat, monitoring, dokumentasi, sampai edukasi keluarga.
Kalau tim solid, error manusia bisa ditekan. Training simulasi terbukti ningkatin kolaborasi dan komunikasi tim, dan efeknya nyata ke pasien.
Penutup
Outcome pasien trauma memang dipengaruhi banyak faktor. Tapi satu hal yang bisa dikontrol sepenuhnya oleh tenaga kesehatan adalah cara kerja timnya. Dengan prinsip trauma care, pelatihan yang baik, dan komunikasi yang jelas, peluang pasien buat hidup dan pulih jadi jauh lebih besar.
Referensi :
James D, Pennardt AM. Trauma Care Principles. [Updated 2023 May 31]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK547757/
Tidak ada komentar untuk "ATLS (Advanced Trauma Life Support) : Panduan Sakti Anak IGD "
Posting Komentar