ACLS: Advanced Cardiac Life Support (Review)
Setiap tahun di Amerika Serikat, sekitar 350 ribu orang kena henti jantung di luar rumah sakit. Masalahnya, mayoritas dari mereka bahkan nggak sempat nyampe rumah sakit karena sekitar 60 sampai 80 persen langsung meninggal di tempat. Dari yang berhasil dibawa ke rumah sakit pun, cuma sekitar 10 persen yang bisa bertahan hidup sampai masuk perawatan, dan lebih kecil lagi, sekitar 8 persen, yang akhirnya pulang dengan fungsi otak dan aktivitas harian yang masih bagus. Jadi, realitanya, henti jantung di luar rumah sakit itu survival-nya kecil banget.
Kondisinya agak mendingan kalau henti jantung terjadi di dalam rumah sakit. Sekitar 1,2 persen pasien dewasa di rumah sakit Amerika mengalami henti jantung saat dirawat. Dari kelompok ini, sekitar seperempatnya bisa keluar rumah sakit dalam kondisi hidup, dan kabar baiknya, sebagian besar dari mereka masih punya fungsi neurologis yang oke. Ini nunjukin satu hal penting: sistem yang siap, tenaga terlatih, dan respon cepat itu beneran ngaruh ke hasil akhir pasien.
Kalau ditarik garis besarnya, ada beberapa faktor kunci yang konsisten bikin outcome pasien membaik, baik di dalam maupun di luar rumah sakit. Yang pertama tentu penanganan yang sesuai guideline. Kedua, edukasi CPR ke masyarakat umum, jadi orang awam nggak ragu buat nolong. Ketiga, sistem “chain of survival” yang bener-bener jalan dari awal sampai akhir. Semua ini jadi fondasi utama dalam penanganan henti jantung.
American Heart Association atau AHA udah lama banget ngurusin soal ini. Mereka mulai bikin guideline CPR sejak tahun 1966 dan sampai sekarang terus di-update berdasarkan penelitian dan evidence terbaru. Selama puluhan tahun ini, memang ada banyak kemajuan, terutama di lingkungan rumah sakit. Tapi kalau ngomongin respon EMS terhadap henti jantung di luar rumah sakit, jujur aja, progresnya masih tertinggal jauh.
Salah satu alasan kenapa evidence di bidang resusitasi nggak sekuat bidang lain adalah masalah etika penelitian. Kebayang kan, pasien henti jantung itu nggak mungkin dimintain informed consent dulu sebelum diteliti. Akhirnya, randomisasi sering dilakukan sebelum izin bisa diperoleh. Karena itu, peneliti harus cari jalan tengah antara kebutuhan ilmiah dan etika. Beberapa studi pakai pendekatan konsultasi komunitas sebelum penelitian dimulai, dan sekarang aturan federal di AS memang mewajibkan transparansi dan keterlibatan publik untuk riset kegawatdaruratan.
Karena tantangan ini, banyak rekomendasi di guideline ACLS masih berbasis kombinasi opini expert, data observasional, dan studi hewan. Tapi walaupun begitu, konsensus saat ini cukup jelas: kunci utama ada di deteksi dini, CPR yang berkualitas tinggi, dan defibrilasi secepat mungkin untuk ritme yang bisa di-shock. ACLS sendiri sebenarnya berdiri di atas pondasi BLS yang kuat. Kalau CPR-nya jelek, ACLS secanggih apa pun nggak bakal maksimal. Chest compression yang benar itu inti dari survival dengan otak yang masih utuh.
Tujuan utama guideline ACLS adalah nyeragamin cara kita nangani henti jantung, baik di lapangan maupun di rumah sakit. Dengan algoritma yang jelas, tenaga kesehatan dari berbagai latar belakang bisa ambil keputusan cepat tanpa harus mikir dari nol. Kesembuhan pasien henti jantung itu bukan hasil kerja satu orang, tapi hasil kerja sistem yang solid dan kolaborasi tim lintas profesi.
Proses penyelamatan dimulai dari pengenalan henti jantung secepat mungkin, aktivasi sistem gawat darurat, langsung CPR, koreksi aritmia mematikan dengan defibrilasi, perawatan setelah ROSC, sampai nyari dan ngatasi penyebab dasarnya. Asumsinya, mayoritas henti jantung berasal dari masalah jantung kayak infark atau gangguan listrik. Tapi penyebab lain seperti gagal napas, trauma, atau keracunan juga wajib selalu dipikirin karena pendekatannya bisa beda.
Masalahnya, semua ini nggak bakal jalan kalau infrastrukturnya nggak siap. Training yang rutin, alat yang tersedia, dan komunikasi tim yang efektif itu syarat mutlak. Tanpa itu, standar perawatan yang sama buat semua pasien cuma jadi teori.
Dalam praktiknya, performa tim resusitasi punya dampak gede banget. Resusitasi itu bukan soal satu orang paling jago, tapi soal tim yang bisa kerja rapi, cepat, dan sinkron. Tim yang performanya tinggi biasanya punya timing yang pas, kualitas tindakan yang konsisten, koordinasi yang halus, dan kepemimpinan yang jelas.
Leader dalam tim resusitasi punya peran krusial. Dia bukan cuma ngasih perintah, tapi ngatur alur, ngawasin kualitas tindakan, dan pastiin semua anggota tim paham perannya. Fokus leader itu selalu ke pasien, bukan ke alat atau prosedur tertentu. Kalau suatu saat leader harus ngerjain tindakan teknis yang kompleks, dia boleh sementara mendelegasikan peran kepemimpinan ke anggota lain supaya tim tetap jalan efektif.
Komunikasi juga nggak kalah penting. Closed-loop communication bikin semua perintah jelas, dikonfirmasi, dan dievaluasi hasilnya. Tim yang bagus juga nggak sungkan saling ngingetin kalau ada kesalahan, tanpa drama atau saling nyalahin. Setelah resusitasi, evaluasi dan debriefing penting banget supaya kesalahan yang sama nggak keulang.
Selain itu, pengenalan perburukan klinis sebelum pasien benar-benar jatuh ke henti jantung juga krusial. Pendekatan sistematis kayak ABCDE bikin tenaga kesehatan bisa nangkep tanda bahaya lebih awal. Gangguan napas, perubahan tekanan darah, denyut jantung ekstrem, penurunan kesadaran, sampai urine output yang turun bisa jadi alarm sebelum kejadian fatal.
Begitu pasien nggak responsif dan napasnya nggak normal, itu harus langsung dianggap sebagai henti jantung. Nggak perlu ragu, sistem emergensi harus langsung diaktifkan dan CPR dimulai. Risiko nyakitin pasien yang ternyata bukan henti jantung jauh lebih kecil dibanding risiko telat CPR pada pasien yang benar-benar henti jantung.
Kualitas CPR jadi penentu utama. Tekanan dada harus cukup dalam, kecepatannya pas, recoil sempurna, dan interupsi seminimal mungkin. Ventilasi berlebihan justru bikin kondisi makin buruk. Karena itu, sejak 2010, pendekatan diubah jadi C-A-B, dengan kompresi dada sebagai prioritas utama.
Manajemen jalan napas juga penting, tapi tetap nggak boleh ngorbanin kompresi. Posisi kepala, pemberian oksigen, sampai penggunaan BVM dan advanced airway harus disesuaikan kondisi pasien dan kemampuan operator. Pada pasien henti jantung, ventilasi tanpa kompresi dalam waktu lama justru bisa bikin oksigen yang beredar makin menurun.
Dalam ACLS, pengenalan ritme jantung dibuat simpel supaya keputusan bisa cepat. Ritme dibagi jadi shockable dan non-shockable. VF dan pulseless VT butuh defibrilasi cepat, sementara PEA dan asystole fokus ke CPR, epinefrin, dan pencarian penyebab reversibel.
Monitoring selama resusitasi juga makin berkembang. EtCO₂ jadi alat penting buat nilai kualitas CPR dan tanda awal ROSC. Nilai yang rendah terus-terusan biasanya nunjukin aliran darah yang jelek, sementara lonjakan tiba-tiba sering jadi tanda jantung mulai kerja lagi.
Setelah ROSC, pekerjaan belum selesai. Justru fase pasca-henti jantung ini krusial banget, terutama buat nyelametin otak. Target oksigenasi, ventilasi, tekanan darah, suhu tubuh, sampai kontrol kejang harus diperhatiin ketat. Dulu hipotermia terapeutik dianggap wajib, tapi evidence terbaru nunjukin bahwa menjaga normotermia dan mencegah demam bisa sama efektifnya.
Kalau setelah usaha resusitasi panjang nggak ada tanda keberhasilan, ada kriteria ilmiah yang membantu nentuin kapan resusitasi boleh dihentikan. Ini bukan soal nyerah, tapi soal mencegah tindakan yang sudah terbukti futile dan berisiko lebih banyak mudarat.
Untuk aritmia dengan nadi, pendekatannya beda lagi. Bradykardia dan takikardia dinilai berdasarkan stabilitas hemodinamik. Atropin, epinefrin, pacing, kardioversi, sampai antiaritmia dipilih sesuai kondisi pasien dan gambaran EKG. Semua tetap balik ke prinsip dasar: stabilkan pasien dan cari penyebabnya.
Pada akhirnya, ACLS itu bukan sekadar hafalan algoritma. Ini soal sistem, tim, dan konsistensi. Training ACLS terbukti ningkatin survival dan outcome neurologis. Rumah sakit yang serius ngembangin sistem ACLS biasanya punya respon lebih cepat dan penanganan lebih rapi.
Kerja tim lintas profesi jadi kunci. Dokter, perawat, paramedis, dan tenaga kesehatan lain harus satu bahasa dan satu tujuan. Dengan komunikasi yang baik, latihan rutin, dan budaya evaluasi berkelanjutan, kualitas penanganan kegawatdaruratan kardiovaskular bisa naik signifikan.
Referensi :
Fulton II MR, Nordquist E. Advanced Cardiac Life Support (ACLS) [Updated 2025 Feb 11]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK613285/
Referensi :
Fulton II MR, Nordquist E. Advanced Cardiac Life Support (ACLS) [Updated 2025 Feb 11]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK613285/
Tidak ada komentar untuk "ACLS: Advanced Cardiac Life Support (Review)"
Posting Komentar